Sabtu, 29 Mei 2021

TERTUSUK BULU BABI (LANDAK LAUT)

 


Bulu babi atau yang juga dikenal dengan landak laut adalah makhluk laut kecil yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh duri tajam beracun.

Landak laut bisa ditemukan dengan mudah di perairan dangkal dengan air yang hangat atau di celah-celah karang terjal.

Meski tampak menyeramkan, bulu babi bukanlah makhluk yang agresif. Duri yang tajam di seluruh tubuh hewan ini berguna sebagai pelindung dari pemangsanya.

Pada dasarnya, bulu babi memiliki dua sistem pertahanan, yaitu duri dan pedicellariae.

Duri yang menyelimuti semua bagian makhluk laut ini cukup tajam untuk menusuk kulit, tetapi juga mudah patah.

Akibatnya, ketika Anda tak sengaja tertusuk, patahan duri-duri bisa menancap dan tertinggal di kulit bagian dalam.

Sistem pertahanan diri yang kedua adalah pedicellarie, yaitu organ halus yang terletak di antara duri-duri landak laut.

Menurut buku Sea Urchin Toxicity, pedecellariae berfungsi untuk melepaskan racun ketika bulu babi menempel pada suatu objek, termasuk ketika hewan laut satu ini tak sengaja Anda injak.

Itulah mengapa perlu pertolongan pertama yang tepat bila Anda tidak sengaja menginjak bulu babi.

Kebanyakan orang tertusuk bulu babi ketika berenang di laut dan tidak sengaja menginjak atau menyentuh hewan laut ini.

Bentuknya yang unik membuat beberapa orang tertarik menyentuh landak laut secara langsung tanpa menyadari bahwa durinya mengandung racun berbahaya.

Sensasi tertusuk bulu babi tidak sama dengan tersengat ubur-ubur, melainkan lebih mirip seperti tertusuk duri dari bunga. Bedanya, sensasi tusukan duri bulu babi terasa lebih menyakitkan.

Bagian kulit yang tertusuk bulu babi biasanya terasa nyeri, gatal, perih, berwarna kemerahan, dan menjadi bengkak.

Apabila luka tusukan terlalu dalam, Anda bisa mengalami cedera yang sangat serius. Efek terkena racun dari tertusuk duri bulu babi juga menyebabkan gejala seperti berikut:

·         nyeri otot,

·         lemas, lesu, tidak bertenaga,

·         kelumpuhan, dan

·         syok.

Dalam kasus yang parah, gejala-gejala di atas bisa juga memicu kegagalan pernapasan bahkan kematian.

 

Selain itu, tusukan duri landak laut sering meninggalkan luka pada kulit yang dapat dengan mudah menyebabkan infeksi luka, terutama jika tidak segera diobati.

Berdasarkan studi berjudul Treatment of Sea Urchin Injuries, berikut ini adalah cara melakukan pertolongan pertama saat tertusuk atau terkena sengatan bulu babi:

1. Merendam luka

Hal pertama yang harus Anda lakukan sesaat ketika tertusuk racun bulu babi karena tak sengaja terinjak adalah tetap tenang dan jangan panik.

Ingat, kepanikan bisa membuat Anda bergerak lebih gaduh. Ini justru dapat mempercepat penyebaran racun ke bagian tubuh lainnya. Setelah itu, segeralah menepi ke daratan.

Segera rendam area yang tertusuk bulu babi di dalam air hangat atau air garam selama 30-90 menit untuk mengurangi rasa sakit dan melunakkan duri yang menancap di kulit.

Selain itu, merendam bagian kulit yang terdampak dapat membantu mengurangi pembengkakan pada kulit.

Penting diketahui, menggunakan urine untuk merendam luka tusuk landak laut bukanlah cara yang tepat. Cara ini justru melainkan meningkatkan risiko infeksi dari kuman yang terdapat pada urine.

2. Menyingkirkan duri

Secara perlahan, cobalah untuk mencabut potongan duri bulu babi sebanyak yang Anda bisa. Ini merupakan cara mengatasi yang juga penting untuk Anda lakukan bila tertusuk bulu babi.

Jika memungkinkan, gunakan pinset untuk mengambil duri-duri besar yang tertancap di kulit.



Anda juga bisa menggunakan pisau cukur untuk mengikis pedicellaria yang tertinggal di kulit. Pastikan Anda menggunakan pisau cukur dengan hati-hati.

Setelah berhasil mencabut duri-duri yang menancap, segera bersihkan luka dengan sabun dan air bersih. Hal ini dilakukan untuk menghindari infeksi di area yang terdampak.

Masalah terbesar yang perlu diwaspadai adalah duri landak laut yang sering pecah di bawah kulit. Oleh sebab itu, berhati-hatilah ketika mencabut duri tersebut dari kulit Anda.

Pastikan Anda bisa mengambil durinya secara utuh sehingga tidak ada yang tertinggal di dalam kulit.

3. Minum obat pereda nyeri

Anda juga bisa mengurangi rasa sakit dari luka tusukan dengan mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti ibuprofen maupun acetaminophen.

Apabila area yang tertusuk bulu babi terasa gatal, Anda juga bisa menggunakan salep hidrokortison yang bisa dibeli bebas di toko obat.

Sebaiknya segera hentikan penggunaan obat hidrokortison segera dan hubungi dokter Anda jika gejala luka terbuka justru semakin memburuk.

Penggunaan krim antibiotik oles seperti Neosporin di daerah yang tertusuk bulu babi juga bisa membantu meringankan gejala yang ada.

Akan tetapi, pastikan Anda berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum menggunakan obat antibiotik. Pasalnya, obat antibiotik tidak boleh digunakan sembarangan.

Kapan harus segera ke dokter?

Segera cari pertolongan medis jika ada duri yang tidak bisa Anda lepaskan atau luka terlalu perih saat dibersihkan.

Selain itu, Anda juga diharuskan segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami kondisi di bawah ini setelah terkena bulu babi:

·    Mengalami rasa sakit yang tak kunjung sembuh setelah tiga sampai empat hari tersengat bulu babi.

·     Ada tanda-tanda infeksi di area yang tertusuk bulu babi dan bagian tubuh lainnya.

·      Anda mengalami nyeri otot dan kelelahan yang ekstrim.

Dokter umumnya akan melakukan serangkaian pemeriksaan terlebih dahulu sebelum merekomendasikan pengobatan tertentu.

Pertama-tama, dokter akan bertanya tentang kapan sengatan itu terjadi dan apa saja gejala yang Anda keluhkan.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan melihat bagian tubuh yang tertusuk bulu babi.

Jika dokter mencurigai adanya duri landak laut yang tertinggal di dalam kulit Anda, dokter mungkin akan menganjurkan untuk melakukan foto rontgen dengan sinar X, USG, atau MRI.

Pada kondisi duri tertanam di dalam tubuh atau di dekat sendi, doker mungkin memerlukan pengangkatan dengan pembedahan.

Dokter juga bisa meresepkan obat antibiotik dan menganjurkan Anda untuk mendapatkan suntikan anti-tetanus.

Dengan mendapatkan perawatan medis, proses penyembuhan luka pun menjadi lebih cepat. Efek berbahaya terkena atau tertusuk bulu babi pun bisa segera dicegah.

(Dari berbagai sumber)

Jumat, 14 Mei 2021

Manfaat Albumin Ikan Gabus pada Penyembuhan Luka Operasi



Manfaat Albumin Ikan Gabus Penyembuhan Luka Paska Operasi tentu masih belum banyak orang tau. Dalam menu sehari-hari , ikan berfungsi sebagai sumber protein hewani . Didalamnya terkandung karbohidra , vitamin dan protein antara 16-20%. 

Namun dibeberapa daerah ada kebiasaan di mana mengkonsumsi hidangan hewani seperti ikan , telur dan daging setelah operasi dilarang. Bahlkan seringkali hanya dianjukan untuk makan nasi dan garam saja. Hal tersebut tidaklah tepat mengingat proteinlah yang baik untuk menyembuhkan luka.

Protein tubuh terdiri dari komponen dari struktur sel, antibodi, hormon dan enzim. Protein sangat diperlukan untuk sel-sel untuk tumbuh dan untuk menjaga membran sel. Protein yang diperlukan untuk fungsi protein plasma . Dalam plasma darah manusia jumlah albumin bervariasi antara 3,5-5,5 g / dl.

Manfaat Albumin Ikan Gabus karena Fraksi utama ikan adalah albumin ( 64,61 % dari total protein ) . ekstrak Ikan Gabus relatif tinggi ( 2,17 ± 0,14 g/100 ml ). Dengan kandungan demikian, ikan gabus cukup memadai untuk digunakan sebagai bahan untuk menambah asupan baik pertumbuhan anak dan pasien yang sedang menjalani perawatan penyembuhan luka .

Ekstrak albumin Ikan Gabus kualitasnya lebih tinggi dari albumin telur . Penyediaan ekstrak ikan gabus pada pasien dengan sirosis hati secara signifikan meningkatkan kadar albumin serum yang lebih tinggi daripada pemberian putih telur.

Manfaat ikan gabus juga mengobati pasien dengan hipoalbuminemia. Berdasarkan data dari Pharmalab Intersains Dipa ( 2004) , albumin komoditas impor cukup mahal . Dengan Harga  $ 33 per 50 ml – 165 ml per100 . Harga kemasan dengan 50 ml dan 100 ml dengan konsentrasi 5 %.Maka memanfaatkan sumber ewani ikan gabus di perairan kita sendiri adalah penting untuk memenuhi asupan protein albumin masyarakat.

Penelitian Manfaat Albumin Ikan Gabus Penyembuhan Luka Operasi ??

Ekstrak Ikan Gabus telah diuji secara klinis pada pasien pasca – bedah dengan tingkat albumin rendah ( 1,8 g / dl ) di Rumah Sakit Umum Dr Syaiful Anwar Malang, Jawa Timur. Pemberian ekstrak Ikan Gabus diperoleh dari 2kg ikan setiap hari meningkatkan albumin ke tingkat normal ( 3,5-5,5 g / dl ) dan lukanya sembuh selama 8 hari tanpa efek samping . Penelitian ini juga menunjukkan bahwa diet dari 15 telur per hari selama 8 hari memberikan albumin yang sama meningkat, namun kadar kolesterol juga mengangkat. Ini membahayakan kesehatan pasien dengan kolesterol tinggi

Kedua albumin dan Zn penting untuk penyembuhan luka karena protein mampu mengikat Zn dan transport dalam plasma darah. Defisiensi Zn menurun proses penyembuhan luka. Sebagai nutrisi , dan lainnya vitamin , hadir dalam ekstrak ikan gabus, ekstrak dapat memicu pembentukan endotel nenek moyang Cell ( EPC ) dan mempercepat penyembuhan luka. Kehadiran Zn dalam ekstrak Ikan Gabus kemungkinan menjadi faktor kunci yang memainkan peran dalam penyembuhan luka dan anak nafsu makan .

KESIMPULAN

1. Ekstrak ikan Gabus merupakan sumber yang baik dari nutrisi penting , terutama albumin dan Zn . Setiap 100ml dari ekstrak Ikan Gabus mengandung protein 3,37 g , 2,17 g albumin , 0,77 g lemak , 0,07 g glukosa , 3,34 mg Zn , Cu 2,34 mg ,dan 0,20 mg Fe.

2. Ekstrak ikan Gabus memiliki potensi yang baik untuk meningkatkan pasien pasca operasi serum albumin. Ia juga memiliki antioksidan yang menekan produksi radikal bebas.

3. Peningkatan serum albumin berkorelasi positif untuk luka proses penyembuhan. Sehingga sangat baik untuk obat pasca operasi caesar atau operasi lain.

SUMBER :

IEESE International Journal of Science and Technology (IJSTE), Vol. 1 No. 2,  June 2012,1-8  ISSN : 2252-5297

 Contoh produk di pasaran:





Minggu, 22 November 2020

RADANG USUS BUNTU (APPENDIKSITIS AKUT)

 RADANG USUS BUNTU (APPENDIKSITIS AKUT)

Anatomi

Apendiks merupakan organ digestif yang terletak pada rongga abdomen bagian kanan bawah. Apendiks berbentuk tabung dengan panjang ksaran 10 cm dan berpangkal utama di sekum. Apendiks memiliki beberapa kemungkinan posisi, yang didasarkan pada letak terhadap struktur-struktur sekitarnya, seperti sekum dan ileum. 30% terletak pelvikum artinya masuk ke rongga plevis, 65% terletak di belakang sekum, 2% terletak preileal, dan kurang dari 1% yang terletak retroileal. 1,2

Apendiks mendapatkan persarafan otonom parasimpatis dari nervus vagus dan persarafan simpatis dari nervus torakalis X. Persarafan ini yang menyebabkan radang pada apendiks akan dirasakan periumbilikal. Vaskularisasi apendiks adalah oleh arteri apendikularis yang tidak memiliki kolateral. 2

Fungsi apendiks dalam tubuh manusia sampai saat ini masih belum sepenuhnya dipahami. Salah satu yang dikatakn pentik adalah terjadi produksi imunglobulin oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang menghasilkan IgA. GALT ini sama dengan lapisan pada sepanjang saluran cerna lainnya. Karena jumlahnya yang sedikit dan minimal,pengangkatan apendiks dikatakan tidak mempengaruhi sistem pertahanan mukosa saluran cerna. Apendiks juga menghasilkan lendir sebanyak 1-2 mL setiap harinya. Aliran ini akan dialirkan ke sekum dan berperan untuk menjaga kestabilan mukosa apendiks.

Apendisitis seringkali terjadi karena gangguan aliran cairan apendiks ini. 2

Patofisiologi

Apendisitis akut secara umum terjadi karena proses inflamasi pada apendiks akibat infeksi. Penyebab utama terjadinya infeksi adalah karena terdapat obstruksi. Obstruksi yang terjadi mengganggu fisiologi dari aliran lendir apendiks, dimana menyebbakan tekanan intralumen meningkat sehingga terjadi kolonisasi bakteri yang dapat menimbulkan infeksi pada daerah tersebut. Pada sebagaian kecil kasus, infeksi dapat terjadi semerta-merta secara hematogen dari tempat lain sehingga tidak ditemukan adanya obstruksi. 2

Infeksi terjadi pada tahap mukosa yang kemudian melibatkan seluruh dinding apendiks pada 24-48 jam pertama. Adaptasi yang dilakukan tubuh terhadap inflamasi lokal ini adalah menutup apendiks dengan struktur lain yaitu omentum, usus halus, dan adneksa.

Hal ini yang menyebabkan terbentuknya masa periapendikuler, yang disebut juga infiltrat apendiks. Pada infilitrat apendiks, terdapat jaringan nekrotik yang dapat saja terbentuk menjadi abses sehingga menimbulkan risiko perforasi yang berbahaya pada pasien apendisits.

Pada sebagian kasus, apendisitis dapat melewati fase akut tanpa perlu dilakukannya operasi. Akan tetapi, nyeri akan seringkali berulang dan menyebabkan eksaserbasi akut sewaktu-waktu dan dapat langsung berujung pada komplikasi perforasi. Pada anak-anak dan geriatri, daya tahan tubuh yang rendah dapat meyebabkan sulitnya terbentuk infiltrat apendisitis sehingga risiko perforasi lebih besar. 2,3,4

Etiologi

Sesuai dengan patofisiologi apendisitis akut, etiologi dari penyakit ini yang berhubungan dengan sumbatan pada lumen apendiks. 2,3 Hal-hal yang dapat menyebabkan, antara lain :

1.    Hiperplasia jaringan limfa

2.    Masa fekalith

3.    Sumbatan oleh cacing ascaris

4.    Sumbatan karena fungsional, yang terjadi karena kurangnya makanan berserat sehingga menimbulkan konstipasi. Konstipasi menyebabkan peningkatan pertumbuhan flora normal kolon.

5.    Keruskaan struktur sekitar, seperti erosi mukosa apendiks akibat infeksi Entamoeba hystolitica.

Manifestasi Klinis

Gejala

Nyeri Perut

Nyeri perut merupakan keluhan utama yang biasanya dirasakan pasien dengan apendisitis akut. Karakteristik nyeri perut penting untuk diperhatikan klinisi karena nyeri perut pada apendisitis memiliki ciri-ciri dan perjalanan penyakit yang cukup jelas.

Nyeri pada apendisitis muncul mendadak (sebagai salah satu jenis dari akut abdomen) yang kemudian nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul. Nyeri merupakan suatu nyeri viseral yang dirasakan biasanya pada daerah epigastrium atau periumbilikus. Nyeri viseral terjadi terus menerus kemudian nyeri berubah menjadi nyeri somatik dalam beberapa jam. Lokasi nyeri somatik umumnya berada di titik McBurney, yaitu pada 1/3 lateral dari garis khayalan dari spina iliaka anterior superior (SIAS) dan umbilikus. Nyeri somatik dirasakan lebih tajam, dengan intesitas sedang sampai berat. Pada suatu metaanalisis, ditemukan bahwa neyri perut yang berpindah dan berubah dari viseral menjadi somatik merupakan salah satu bukti kuat untuk menegakkan diagnosis apendisitis. 2,3

Sesuai dengan anatomi apendiks, pada beberapa manusia letak apendiks berada retrosekal atau berada pada rongga retroperitoneal. Keberadaan apendiks retrosekal menimbulkan gejala nyeri perut yang tidak khas apendisitis karena terlindungi sekum sehingga rangsangan ke peritoneum minimal. Nyeri perut pada apendisitis jenis ini biasanya muncul apabila pasien berjalan dan terdapat kontraksi musculus psoas mayor secara dorsal. 2,3

Mual dan Muntah

Gejala mual dan muntah sering menyertai pasien apendisitis. Nafsu makan atau anoreksia merupakan tanda-tanda awal terjadinya apendisitis. 2,3

Gejala Gastrointestinal

Pada pasien apendisitis akut, keluhan gastrointestinal dapat terjadi baik dalam bentuk diare maupun konstipasi. Pada awal terjadinya penyakit, sering ditemukan adanya diare 1-2 kali akibat respons dari nyeri viseral. Diare terjadi karena perangsangan dinding rektum oleh peradangan pada apendiks pelvis atau perangsangan ileum terminalis oleh peradangan apendiks retrosekal. Akan tetapi, apabila diare terjadi terus menerus perlu dipikirkan terdapat penyakit penyerta lain.

Konstipasi juga seringkali terjadi pada pasien apendisitis, terutama dilaporkan ketika pasien sudah mengalami nyeri somatik. 2,3

Tanda

Keadaan Umum

Secara umum, pasien apendisitis akut memiliki tanda-tanda pasien dengan radang atau nyeri akut. Takikardia dan demam ringan-sedang sering ditemukan. Demam pada apendisitis umumnya sekitar 37,5 – 38,5°C. Demam yang terus memberat dan mencapai demam tinggi perlu dipikirkan sudah terjadinya perforasi. 2,3

Keadaan Lokal

Pada apendisitis, tanda-tanda yang ditemukan adalah karena perangsangan langsung pada peritoneum oleh apendiks atau perangsangan tidak langsung. Perangsangan langsung menyebabkan ditemukannya nyeri tekan dan nyeri lepas pada perut kanan bawah, terutama pada titik McBurney. Selain itu pada inspeksi dan palpasi abdomen akan mudah dilihat terdapat deffense muscular sebagai respons dari nyeri somatik yang terjadi secara lokal.

Perangsangan tidak langsung ditunjukkan oleh beberapa tanda, antara lain Rovsing sign yang menandakan nyeri pada perut kiri bawah apabila dilakukan penekanan pada titik McBurney. Begitupula Blumberg sign adalah nyeri pada perut kiri bawah apabila dilakukan pelepasan pada titik McBurney. 2,3

Pada apendisitis retrosekal, tanda-tanda umum di atas seringkali tidak muncul akan tetapi dapat cukup khas ditegakkan dengan Psoas sign dan Obturator sign. Tanda psoas adalah nyeri timbul apabila pasien melakukan ekstensi maksimal untuk meregangkan otot psoas. Secara praktis adalah dengan fleksi aktif sendi panggul kanan kemudian paha kanan diberikan tahanan. Hal ini akan menimbulkan rangsangan langsung antara apendiks dengan otot psoas sehingga timbul nyeri. Tanda obturator muncul apabila dilakukan fleksi dan endorotasi sendi panggul yang menyebabkan apendiks bersentuhan langsung dengan muskulus obturator internus. Biasanya untuk mengetahui terdapat tanda psoas maupun obturator, dapat pula diperdalam mengenai timbulnya nyeri saat berjalan, bernafas, dan beraktivitas berat.

Diagnosis

Diagnosis apendisitis bergantung pada penemuan klinis, yaitu dari anamnesis mengenai gejala-gejala dan pemeriksaan fisik untuk menemukan tanda-tanda yang khas pada apendisitis. Anamnesis mengenai gejala nyeri perut beserta perjalanan penyakitnya, gejala penyerta seperti mual-muntah-anoreksia, dan ada tidaknya gejala gastrointestinal.

Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh karena tanda-tanda vital juga sudah dapat mengarah ke diagnosis apendisitis. Takikardia dan demam sedang merupakan tanda-tanda yang sering ditemukan. Pada pemeriksaan gigi dan mulut, sering ditemukana adanya lidah kering dan terdapat fethor oris. Pada pemeriksaan abdomen dilakukan cermat pada tiap tahap. Dari auskultasi sering ditemukan bising usus menurun karena terjadi ileus paralitik.

Pada inspeksi, dapat ditemukan bahwa dinding perut terlihat kaku dan kemudian dikonfirmasi dengan palpasi. Pada palpasi, ditemukan nyeri tekan dan nyeri lepas serta terdapat tahanan (deffense muscular). Palpasi dilakukan pada beberapa titik diagnostik apendisitis yaitu titik McBurney, uji Rovsig, dan uji Blomberg. Uji psoas dan uji obturator juga dapat dilakukan terutama pada kecurigaan apendisitis yang terjadi secara retrosekal. 2,3,4

Pemeriksaan penunjang kurang bermakna pada diagnosis apendisitis karena penegakan diagnosis umumnya cukup berasal dari penemuan klinis. Pemeriksaan urin dan darah perifer lengkap dapat membantu dengan menunjukkan adanya tanda-tanda inflamasi secara umum, yaitu adanya leukositosis dan keberadaan pyuria.

Dengan penemuan klinis dan pemeriksaan laboratorium, dapat digunakan suatu alat bantu untuk diagnosis apendisitis akut, yaitu Alvarado Score. Dengan memperoleh nilai lebih dari 7, maka apendisitis akut sudah umumnya dapat ditegakkan.5

Komponen Alvarado Score adalah :

“MANTRELS”

SCORE

Symptom

     Migratory RIF pain

     Anorexia

     Nausea and vomiting

 

1

1

1

Sign

     Tenderness (RIF)

     Rebound tenderness

     Elevated temperature

 

2

1

1

Laboratory

     Leucocytosis

     Shift to the left

 

2

1

TOTAL

10

 

Pemeriksaan radiologi dapat membantu diagnosis apendisitis secara lebih cepat dan pasti, akan tetapi secara value-based kurang disarankan. Gambaran kemampuan diagnositik dari beberapa modalitas radiologi terhadap diagnosis apendisitis adalah sebagai berikut 4 :

Modalitas

Makna Klinis

Foto Polos

Tidak bermakna dalam diagnosis, walaupun seringkali penemuan fecalith dapat dilakukan

USG Abdomen

Sensitivitas 86%, Spesifisitas 81%

CT-Scan

Sensitiitas 94%, Spesifisitas 95%

Magnetic Resonance Imaging

Belum ada penelitian yang mengkaji, namun sangat jarang dilakukan

 

Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa penggunaan modalitas radiologi pada diagnosis apendisitis akut hanya dilakukan apabila diagnosis dengan mengandalkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium tidak dapat dilakukan. Modalitas yang disarankan adalah CT-Scan karena USG masih bersifat operator-dependent.4

Tata Laksana

Setelah penegakan diagnosis apendisitis dilakukan, tata laksana utama pada apendisitis adalah Apendektomi. Tata laksana mulai diarahkan untuk persiapan operasi untuk mengurangi komplikasi pasca-operasi dan meningkatkan keberhasilan operasi.

Medikamentosa

Persiapan operasi dilakukan dengan pemberian medikamentosa berupa analgetik dan antibiotik spektrum luas, dan resusitasi cairan yang adekuat. Pasien apendisitis seringkali datang dengan kondisi yang tidak stabil karena nyeri hebat sehingga analgetik perlu diberikan. Antibiotik diberikan untuk profilaksis, dengan cara diberikan dosis tinggi, 1-3 kali dosis biasanya. Antibiotik yang umum diberikan adalah cephalosporin generasi 2 / generasi 3 dan Metronidazole. Hal ini secara ilmiah telah dibuktikan mengurangi terjadinya komplikasi post operasi seperti infeksi luka dan pembentukan abses intraabdominal. 3,4

Pilihan antibiotik lainnya adalah ampicilin-sulbactam, ampicilin-asam klavulanat, imipenem, aminoglikosida, dan lain sebagainya. Waktu pemberian antibiotik juga masih diteliti. Akan tetapi beberapa protokol mengajukan apendisitis akut diberikan dalam waktu 48 jam saja. Apendisitis dengan perforasi memerlukan administrasi antibiotik 7-10 hari. 6

Apendektomi

Sampai saat ini, penentuan waktu untuk dilakukannya apendektomi yang diterapkan adalah segera setelah diagnosis ditegakkan karena merupakan suatu kasus gawat-darurat.

Beberapa penelitian retrospektif yang dilakukan sebenarnya menemukan operasi yang dilakukan dini (kurang dari 12 jam setelah nyeri dirasakan) tidak bermakna menurunkan komplikasi post-operasi dibanding yang dilakukan biasa (12-24 jam). Akan tetapi ditemukan bahwa setiap penundaan 12 jam waktu operasi, terdapat penambahan risiko 5% terjadinya perforasi.

Teknik yang digunakan dapat berupa, (1) operasi terbuka, dan (2) dengan Laparoskopi. Operasi terbuka dilakukanndengan insisi pada titik McBurney yang dilakukan tegak lurus terhadap garis khayalan antara SIAS dan umbilikus. Di bawah pengaruh anestesi, dapat dilakukan palpasi untuk menemukan massa yang membesar. Setelah dilakukan insisi, pembedahan dilakukan dengan identiifkasi sekum kemudian dilakukan palpasi ke arah posteromedial untuk menemukan apendisitis posisi pelvik. Mesoapendiks diligasi dan dipisahkan. Basis apendiks kemudian dilakukan ligasi dan transeksi.

Apendektomi dengan bantuan laparoskopi mulai umum dilakukan saat ini walaupun belum ada bukti yang menyatakan bahwa metode ini memberikan hasil operasi dan pengurangan kejadian komplikasi post-operasi. Apendekotmi laparoskopi harus dilakukan apabila diagnosis masih belum yakin ditegakkan karena laparoskopi dapat sekaligus menjadi prosedur diagnostik. Sampai saat ini penelitian-penelitian yang dilakukan masih mengatakan keunggulan dari metode ini adalah meningkatkan kualitas hidup pasien. Perbaikan nfeksi luka tidak terlalu berpengaruh karena insisi pada operasi terbuka juga sudah dilakukan dengan sangat minimal. 2,3,4

Komplikasi pasca-operasi dari apendektomi adalah terjadinya infeksi luka dan abses inttraabdomen. Infeksi luka umumnya sudah dapat dicegah dengan pemberian antibiotik perioperatif. Abses intra-abdomen dapat muncul akibat kontaminasi rongga peritoneum. 4

Komplikasi

Komplikasi yang paling berbahaya dari apendisitis apabila tidak dilakukan penanganan segera adalah perforasi. Sebelum terjadinya perforasi, biasanya diawali dengan adanya masa periapendikuler terlebih dahulu.

Masa periapendikuler terjadi apabila gangren apendiks masih berupa penutupan lekuk usus halus. Sebenarnya pada beberapa kasus masa ini dapat diremisi oleh tubuh setelah inflamasi akut sudah tidak terjadi. Akan tetapi, risiko terjadinya abses dan penyebaran pus dalam infilitrat dapat terjadei sewaktu-waktu sehingga massa periapendikuler ini adalah target dari operasi apendektomi.

Perforasi merupakan komplikasi yang paling ditakutkan pada apendisitis karena selain angka morbiditas yang tinggi, penanganan akan menjadi semakin kompleks. Perforasi dapat menyebabkan peritonitis purulenta yang ditandai nyeri hebat seluruh peruhk, demam tinggi, dan gejala kembung pada perut. Bisis usus dapat menurun atau bahkan menghilang karena ileus paralitik yang terjadi. Pus yang menyebar dapat menjadi abses inttraabdomen yang paling umum dijumpai pada rongga pelvis dan subdiafragma. Tata laksana yang dilakukan pada kondisi berat ini adalah laparotomi eksploratif untuk membersihkan pus-pus yang ada.

Sekarang ini sudah dikembangkan teknologi drainase pus dengan laparoskopi sehingga pembilasan dilakukan lebih mudah. 2

Daftar Pustaka

1.    Putz R Pabst R. Sobotta: Atlas Anatomi Manusia. Jilid 2. Jakarta: EGC; 2010.

2.    Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC;2011. Hal 755-64.

3.    Humes DJ, Simpson J. Clinical Review: Acute appendicitis. BMJ. 2007. 333:540-34.

4.    Tjandra JJ, Clunie GJA, Kaye AH, Smith JA. Textbook of Surgery. 3rd ed. Blackwell Publishing; 2006. H. 123-27.

5.    Brunicardi FC. Schwartz’s Manual of Surgery. 8th edition. London: McGraw-Hill. 2006. p. 784-95


6.    Morris PJ, Wood WC. Oxford’s Textbook of Surgery. 2nd ed. Oxford. eBook.

7.    Williams NS, Bulstrode CJK, O’Connell PR. Bailey & Love’s Short Practice of Surgery. 25th edition. London: Edward Arnold. 2008. p. 1204-18

8.    Grace PA, Borley NR. Surgery at a Glance. 2nd edition. Victoria: Blackwell Science. 2002. p. 28

Kartono D. Apendisitis Akuta. Dalam
 

Sabtu, 16 Februari 2013

Tungkai Bengkak




Tungkai Bengkak


·   Pasien dengan tungkai bengkak lazim dijumpai di bangsal bedah, ortopedi, atau ginekologi.  Yang mengkhawatirkan adalah jika penyebabnya DVT (trombosis vena dalam).
·         PE (emboli paru) hanya terjadi bila trombus  meluas ke vena femoralis dan iliaka.
·         Trombosis vena pelvis bisa menyebabkan PE, khususnya setelah prosedur ginekologi.
·         Trombosis vena yang terbatas pada vena betis tidak menyebabkan PE. Sayangnya, tanda-tanda klinik tidak memungkinkan diferensiasi antara trombosis vena betis dan DVT proksimal. Trombosis vena betis bisa merambat melewati lutut jika tidak diobati.
·         Tidak semua tungkai bengkak berarti DVT, dan banyak DVT memiliki gejala ringan. Diagnosis lebih mudah dibandingkan di bangsal penyakit dalam, karena peru-bahan dalam tungkai biasa diamati.
·      Risiko terbesar dari DVT adalah setelah bedah ortopedi, dan trauma tungkai. Pasien-pasien ini paling mungkin mengalami pembengkakan tungkai karena pembedahan atau trauma itu sendiri.
·         PE bisa terjadi tanpa bukti klinis adanya DVT.
·         Setiap pembengkakan tungkai yang baru terjadi pada pasien bedah harus dianggap serius.

Diagnosis banding dan gambaran klinis pembengkakan tungkai setelah operasi.
Tabel berikut disusun menurut asumsi-asumsi bahwa tungkai mendadak bengkak pada periode perioperatif.


Tabel 1. Sebab-sebab pembengkakan tungkai pasca bedah
Diagnosis
Gambaran klinis
Sebab-sebab lazim atau penting
DVT terbatas
Pada vena betis
Edema betis unilateral, nyeri/nyeri tekan betis, hangat, dan merah. Sering demam ringan (<38 oC). Nyeri yang bertambah pada dorsifleksi kaki (tanda Hotman) tidak memperkuat diagnosis.
DVT; di atas lutut
Edema tungkai atas dan bawah, sianosis, bendungan vena saphena, nyeri tekan vena ileofemoral (dalam kanal Hunter dan lipat paha). Sering demam ringan(<38 oC). tanda-tanda DVT proksimal mungkin sama seperti trombosis vena betis.
Edema bedah atau pasca trauma
Pembengkakan tungkai setelah bedah pinggul dan lutut, dan sering setelah prosedur pergelangan kaki dan bahkan kaki. Edema terjadi tanpa nyeri, tanpa demam, dalam satu atau dua hari setelah bedah ortopedi, dan perlahan-lahan menyusut. Edema gravitasi bisa menetap selama  setahun atau lebih setelah bedah ortopedi. DVT harus dicurigai bila edema cepat meningkat sekalipun pasien berbaring, atau bila ada nyeri, merah, hangat atau demam.
Selulitis
Kemerahan dan kehangatan kulit hebat yang cepat menyebar (kurang sering pada usia lanjut), nyeri dan lepuhan. Mungkin tanpa ada riwayat trauma kulit.
Sindrom kompartemen
Terjadi setelah trauma/iskemia anggota gerak. Gejalanya nyeri, pembengkakan tegang, pares-tesia yang meningkat. Tekanan kompartemen harus diukur dengan transduser dan jika meninggi maka dilakukan fasiotomi
Gagal jantung atau kelebihan beban cairan dengan insufisiensi vena unilateral
Relatif sering. Resusitasi cairan dari pasien syok sering menjurus edema perifer pada fase pemulihan. Terapi cairan berlebihan bisa mencetuskan gagal jantung. Jika pasien mengidap insufisiensi vena (cari tanda ekzema varikosa, tukak yang telah menyembuh, lipodermatosklerosis), edema bisa terlihat sesisi, tetapi akan terlihat pada kedua sisi jika kaki yang terlihat normal diperiksa dengan seksama.
Pirai (gout) akut
Nyeri tekan sendi dengan kemerahan menyebar sekitar sendi. Sering dipicu oleh dehidrasi, sepsis dan katabolisme setelah pembedahan pada pasien dengan riwayat pirai

Sebab-sebab yang lebih jarang pada praktek bedah
Hematoma
Biasanya ada riwayat trauma langsung. Bisa spontan pada pasien yang mendapat antikoagulan. Relatif lebih sering pada pasca bedah setelah penggantian lutut atau pinggul total.
Treomboflebitis
Nyeri tekan langsung di atas perjalanan vena superfisial yang teraba dan menonjol. Tidak sering terlihat pada periode perioperatif.
Kista poplitea yang pecah
Nyeri tekan pada fosa poplitea yang meluas ke betis posterior. Tidak lazim tetapi dapat terjadi setelah trauma
Robekan otot
Hanya setelah trauma yang mencolok
Tungkai pasca flebitis
Edema gravitasi pada pasien dengan trombosis vena atau varises sebelumnya. Insufisiensi vena membaik dengan tirah baring, jadi kecil kemungkinan ini sebagai penyebab tungkai bengkak  pada praktek bedah

Semua pasien yang akan menjalani pembedahan harus diperiksa tungkainya sebelum operasi sehingga setiap perubahan pada pasca bedah bisa dijelaskan.

Penilaian tungkai bengkak
Setiap pebengkakan tungkai unilateral pada periode pasca bedah harus selalu dicurigai karena DVT. Selain pada pasien ortopedi yang menjalani prosedur amputasi tungkai bawah, DVT merupakan penyebab paling mungkin dari edema.
            Tujuan utama dari pemeriksaan adalah menentukan luas trombosis; diagnosis trombosis itu sendiri sering ditegakkan berdasarkan temuan klinis.

Penyelidikan
Tatalaksana DVT bergantung pada luas trombosis. Luas trombosis tidak bisa ditentukan secara klinis. Semua pasien yang dicurigai DVT membutuhkan pencitraan (imaging) sistem vena.

USG kompresi Döppler dari vena femoralis
Ini merupakan pemeriksaan standar untuk DVT proksimal. Tingkat kepekaan dan kespesifikannya tinggi, dan tes tidak bersifat invasif. Pemeriksaan bisa diulang untuk menyingkirkan kemungkinan perambatan bekuan di atas lutut pada pasien-pasien tertentu.

Venografi kontras
Tes ‘standar emas’ untuk trombosis vena betis. Memakan waktu, tidak mudah dan kadang-kadang menyusahkan pasien. Digunakan luas bila diagnosis banding dari pembengkakan tungkai lebih banyak. Namun untuk praktek bedah ini tidak praktis, karena diagnosis DVT lebih mudah. Venografi kontras dapat digunakan untuk menyingkirkan trombosis vena betis dan menghindari antikoagulasi jangka-pendek pada pasien yang dinilai memiliki risiko perdarahan.

Impedance plethysmography
Tidak digunakan secara luas, tetapi dikenalkan secara bertahap. Teknik ini mengukur perubahan tahanan di dalam paha sebagai respons terhadap kompresi tungkai. Metode ini memungkinkan diagnosis akurat dan menyingkirkan trombosis proksimal. Alat baru yang dilengkapi komputer (misal Belfast scanner) tidak memerlukan tenaga operator seperti halnya USG. Ini bisa menggeser USG sebagai sarana penyelidikan pilihan.

Tes-tes lain
·         d-dimer memperlihatkan bahwa sistem pembekuan telah diaktifkan. Peningkatan d-dimer tidak bermanfaat dalam mendiagnosis DVT pada pasien bedah. Namun jika d-dimer normal, mengesankan kemungkinan diagnosis kecil.
·         CRP (C-reactive protein) meninggi pada DVT, namun begitupula setelah pembedahan dan sepsis. Nilai normal berguna dalam menyingkirkan DVT.
·         Jika gambaran klinis tidak mengesankan, dan d-dimer serta CRP keduanya normal, maka pencitraan vena tidak perlu dilaksanakan.

Tatalaksana trombosis vena
·         Jika tidak ada risiko tinggi untuk perdarahan, lebih baik pasien yang dicurigai DVT langsung diobati ketimbang menunggu hasil penyelidikan definitif.
·         DVT proksimal diatasi dengan pemberian warfarin selama 6 bulan.
·         Trombosis vena betis membutuhkan hanya 6 minggu terapi kecuali jika faktor-faktor risiko untuk trombosis masih ada (misal, keganasan lanjut, imobilitas ,dll).
·         Bila mungkin, kirim darah untuk pemeriksaan waktu protrombin, APTT, hitung trombosit dan tes faal hati sebelum memulai pengobatan.
·         Mulai terapi dengan heparin (unfractionated atau LMWH sesuai protokol setempat) dan warfarin diberi bila risiko perdarahan rendah. Jika pasien sudah lebih dari 4 hari pasca bedah, dan tidak mungkin menjalani operasi lagi, maka warfarin bisa diberi bersamaan dengan heparin.

Heparin
·         Berikan bolus 5000 U heparin iv.
·         Mulai infus heparin dengan kecepatan 17500 U selama 12 jam.
·         Ukur rasio APT setiap pagi dan sesuaikan kecepatan infus heparin menurut tabel 51.2.

Tabel 51.2 Penyesuaian kecepatan infus heparin menurut rasio APTR
APTR
Perubahan dosis heparin setiap 12 jam
>5
Kurangi sebanyak 6000 U
4,1-5
Kurangi sebanyak 3500 U
3,1-4
Kurangi sebanyak 1000 U
2,6-3
Kurangi sebanyak 500 U
1,5-2
Tidak berubah
1,2-1,4
Naikkan sebanyak 2500 U
<1,2
Naikkan sebanyak 5000 U