Tungkai Bengkak
· Pasien dengan tungkai bengkak lazim
dijumpai di bangsal bedah, ortopedi, atau ginekologi. Yang mengkhawatirkan adalah jika penyebabnya
DVT (trombosis vena dalam).
·
PE (emboli paru) hanya terjadi bila
trombus meluas ke vena femoralis dan
iliaka.
·
Trombosis vena pelvis bisa
menyebabkan PE, khususnya setelah prosedur ginekologi.
·
Trombosis vena yang terbatas pada
vena betis tidak menyebabkan PE. Sayangnya, tanda-tanda klinik tidak
memungkinkan diferensiasi antara trombosis vena betis dan DVT proksimal.
Trombosis vena betis bisa merambat melewati lutut jika tidak diobati.
·
Tidak semua tungkai bengkak berarti
DVT, dan banyak DVT memiliki gejala ringan. Diagnosis lebih mudah dibandingkan
di bangsal penyakit dalam, karena peru-bahan dalam tungkai biasa diamati.
· Risiko terbesar dari DVT adalah
setelah bedah ortopedi, dan trauma tungkai. Pasien-pasien ini paling mungkin
mengalami pembengkakan tungkai karena pembedahan atau trauma itu sendiri.
·
PE bisa terjadi tanpa bukti klinis
adanya DVT.
·
Setiap pembengkakan tungkai yang
baru terjadi pada pasien bedah harus dianggap serius.
Diagnosis banding dan gambaran
klinis pembengkakan tungkai setelah operasi.
Tabel berikut disusun menurut
asumsi-asumsi bahwa tungkai mendadak bengkak pada periode perioperatif.
Tabel 1. Sebab-sebab pembengkakan tungkai pasca bedah
|
Diagnosis
|
Gambaran
klinis
|
Sebab-sebab
lazim atau penting
|
DVT terbatas
Pada vena
betis
|
Edema betis
unilateral, nyeri/nyeri tekan betis, hangat, dan merah. Sering demam ringan
(<38 oC). Nyeri yang bertambah pada dorsifleksi kaki (tanda
Hotman) tidak memperkuat diagnosis.
|
|
DVT; di atas
lutut
|
Edema tungkai
atas dan bawah, sianosis, bendungan vena saphena, nyeri tekan vena
ileofemoral (dalam kanal Hunter dan lipat paha). Sering demam ringan(<38 oC).
tanda-tanda DVT proksimal mungkin sama seperti trombosis vena betis.
|
|
Edema bedah
atau pasca trauma
|
Pembengkakan
tungkai setelah bedah pinggul dan lutut, dan sering setelah prosedur
pergelangan kaki dan bahkan kaki. Edema terjadi tanpa nyeri, tanpa demam,
dalam satu atau dua hari setelah bedah ortopedi, dan perlahan-lahan menyusut.
Edema gravitasi bisa menetap selama
setahun atau lebih setelah bedah ortopedi. DVT harus dicurigai bila
edema cepat meningkat sekalipun pasien berbaring, atau bila ada nyeri, merah,
hangat atau demam.
|
|
Selulitis
|
Kemerahan
dan kehangatan kulit hebat yang cepat menyebar (kurang sering pada usia
lanjut), nyeri dan lepuhan. Mungkin tanpa ada riwayat trauma kulit.
|
|
Sindrom
kompartemen
|
Terjadi
setelah trauma/iskemia anggota gerak. Gejalanya nyeri, pembengkakan tegang,
pares-tesia yang meningkat. Tekanan kompartemen harus diukur dengan
transduser dan jika meninggi maka dilakukan fasiotomi
|
|
Gagal jantung
atau kelebihan beban cairan dengan insufisiensi vena unilateral
|
Relatif
sering. Resusitasi cairan dari pasien syok sering menjurus edema perifer pada
fase pemulihan. Terapi cairan berlebihan bisa mencetuskan gagal jantung. Jika
pasien mengidap insufisiensi vena (cari tanda ekzema varikosa, tukak yang
telah menyembuh, lipodermatosklerosis), edema bisa terlihat sesisi, tetapi
akan terlihat pada kedua sisi jika kaki yang terlihat normal diperiksa dengan
seksama.
|
|
Pirai (gout)
akut
|
Nyeri
tekan sendi dengan kemerahan menyebar sekitar sendi. Sering dipicu oleh
dehidrasi, sepsis dan katabolisme setelah pembedahan pada pasien dengan
riwayat pirai
|
Sebab-sebab
yang lebih jarang pada praktek bedah
|
Hematoma
|
Biasanya
ada riwayat trauma langsung. Bisa spontan pada pasien yang mendapat
antikoagulan. Relatif lebih sering pada pasca bedah setelah penggantian lutut
atau pinggul total.
|
|
Treomboflebitis
|
Nyeri
tekan langsung di atas perjalanan vena superfisial yang teraba dan menonjol.
Tidak sering terlihat pada periode perioperatif.
|
|
Kista
poplitea yang pecah
|
Nyeri
tekan pada fosa poplitea yang meluas ke betis posterior. Tidak lazim tetapi
dapat terjadi setelah trauma
|
|
Robekan otot
|
Hanya
setelah trauma yang mencolok
|
|
Tungkai pasca
flebitis
|
Edema
gravitasi pada pasien dengan trombosis vena atau varises sebelumnya.
Insufisiensi vena membaik dengan tirah baring, jadi kecil kemungkinan ini
sebagai penyebab tungkai bengkak pada
praktek bedah
|
Semua pasien yang akan menjalani
pembedahan harus diperiksa tungkainya sebelum operasi sehingga setiap perubahan
pada pasca bedah bisa dijelaskan.
Penilaian tungkai bengkak
Setiap pebengkakan tungkai
unilateral pada periode pasca bedah harus selalu dicurigai karena DVT. Selain
pada pasien ortopedi yang menjalani prosedur amputasi tungkai bawah, DVT
merupakan penyebab paling mungkin dari edema.
Tujuan
utama dari pemeriksaan adalah menentukan luas trombosis; diagnosis trombosis
itu sendiri sering ditegakkan berdasarkan temuan klinis.
Penyelidikan
Tatalaksana DVT bergantung pada luas
trombosis. Luas trombosis tidak bisa ditentukan secara klinis. Semua pasien
yang dicurigai DVT membutuhkan pencitraan (imaging) sistem vena.
USG
kompresi Döppler dari vena femoralis
Ini merupakan pemeriksaan standar
untuk DVT proksimal. Tingkat kepekaan dan kespesifikannya tinggi, dan tes tidak
bersifat invasif. Pemeriksaan bisa diulang untuk menyingkirkan kemungkinan
perambatan bekuan di atas lutut pada pasien-pasien tertentu.
Venografi
kontras
Tes ‘standar emas’ untuk trombosis
vena betis. Memakan waktu, tidak mudah dan kadang-kadang menyusahkan pasien.
Digunakan luas bila diagnosis banding dari pembengkakan tungkai lebih banyak.
Namun untuk praktek bedah ini tidak praktis, karena diagnosis DVT lebih mudah.
Venografi kontras dapat digunakan untuk menyingkirkan trombosis vena betis dan
menghindari antikoagulasi jangka-pendek pada pasien yang dinilai memiliki
risiko perdarahan.
Impedance
plethysmography
Tidak digunakan secara luas, tetapi
dikenalkan secara bertahap. Teknik ini mengukur perubahan tahanan di dalam paha
sebagai respons terhadap kompresi tungkai. Metode ini memungkinkan diagnosis
akurat dan menyingkirkan trombosis proksimal. Alat baru yang dilengkapi
komputer (misal Belfast scanner) tidak memerlukan tenaga operator seperti
halnya USG. Ini bisa menggeser USG sebagai sarana penyelidikan pilihan.
Tes-tes
lain
·
d-dimer memperlihatkan bahwa sistem
pembekuan telah diaktifkan. Peningkatan d-dimer tidak bermanfaat dalam
mendiagnosis DVT pada pasien bedah. Namun jika d-dimer normal, mengesankan
kemungkinan diagnosis kecil.
·
CRP (C-reactive protein) meninggi
pada DVT, namun begitupula setelah pembedahan dan sepsis. Nilai normal berguna
dalam menyingkirkan DVT.
·
Jika gambaran klinis tidak
mengesankan, dan d-dimer serta CRP keduanya normal, maka pencitraan vena tidak
perlu dilaksanakan.
Tatalaksana trombosis vena
·
Jika tidak ada risiko tinggi untuk
perdarahan, lebih baik pasien yang dicurigai DVT langsung diobati ketimbang
menunggu hasil penyelidikan definitif.
·
DVT proksimal diatasi dengan
pemberian warfarin selama 6 bulan.
·
Trombosis vena betis membutuhkan
hanya 6 minggu terapi kecuali jika faktor-faktor risiko untuk trombosis masih
ada (misal, keganasan lanjut, imobilitas ,dll).
·
Bila mungkin, kirim darah untuk
pemeriksaan waktu protrombin, APTT, hitung trombosit dan tes faal hati sebelum
memulai pengobatan.
·
Mulai terapi dengan heparin (unfractionated
atau LMWH sesuai protokol setempat) dan warfarin diberi bila risiko perdarahan
rendah. Jika pasien sudah lebih dari 4 hari pasca bedah, dan tidak mungkin
menjalani operasi lagi, maka warfarin bisa diberi bersamaan dengan heparin.
·
Berikan bolus 5000 U heparin iv.
·
Mulai infus heparin dengan kecepatan
17500 U selama 12 jam.
·
Ukur rasio APT setiap pagi dan
sesuaikan kecepatan infus heparin menurut tabel 51.2.
Tabel 51.2 Penyesuaian kecepatan infus heparin menurut rasio APTR
|
APTR
|
Perubahan
dosis heparin setiap 12 jam
|
|
>5
|
Kurangi
sebanyak 6000 U
|
|
4,1-5
|
Kurangi
sebanyak 3500 U
|
|
3,1-4
|
Kurangi
sebanyak 1000 U
|
|
2,6-3
|
Kurangi
sebanyak 500 U
|
|
1,5-2
|
Tidak
berubah
|
|
1,2-1,4
|
Naikkan
sebanyak 2500 U
|
|
<1,2
|
Naikkan
sebanyak 5000 U
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar